Gue sering banget dapat pertanyaan dari temen-temen yang hobinya traveling: "Gue mau nabung buat trip ke Jepang tahun depan, tapi kata orang gue harus punya dana darurat dulu. Yang mana yang gue dahuluin?"
Jujur, ini pertanyaan yang bikin pusing. Dua-duanya penting. Dua-duanya bikin dompet kering kalau dipaksain barengan. Dan dua-duanya sering dianggap sama padahal fungsinya beda banget. Jadi mari kita bedah, biar kamu gak salah alokasi dan tetap bisa jalan-jalan tanpa was-was.
Kenapa Dua Pos Ini Sering Ketuker?
Masalahnya sederhana: keduanya sama-sama "nabung buat sesuatu yang belum terjadi". Bedanya, satu buat hal menyenangkan yang kamu rencanain, satu lagi buat hal menyebalkan yang gak kamu undang.
Baca juga: Gimana Caranya Warga Kampung Bisa Nabung Meski Penghasilan Pas-pasan?
Dana darurat itu payung. Tabungan liburan itu tiket konser. Kalau hujan deras dan kamu cuma bawa tiket konser, ya basah. Tapi kalau kamu cuma bawa payung terus-terusan tanpa pernah nonton konser, hidup jadi garing. Dua-duanya perlu, cuma porsinya beda.
Nah, buat kamu yang sering bepergian—entah dinas luar kota tiap bulan atau backpackeran tiap long weekend—dua pos ini punya tekanan tambahan. Kamu lebih rentan kena biaya tak terduga di jalan (tiket pesawat yang tiba-tiba naik, barang ketinggalan, sakit di kota orang), tapi kamu juga butuh "bahan bakar" biar hobi jalanmu gak mati.
Dana Darurat: Buat Kamu yang Sering di Jalan
Standar umum bilang dana darurat itu 3-6 kali pengeluaran bulanan. Tapi buat kamu yang sering traveling, angka itu bisa melar. Kenapa?
Baca Juga: Yuk, lihat apa yang menarik perhatianmu hari ini!
Karena risiko kamu lebih tinggi. Bayangin kamu lagi di Bali, dompet hilang, dan harus tetap bayar hotel plus beli tiket pulang mendadak. Atau kamu lagi di luar kota dan dapat kabar keluarga sakit. Kalau dana daruratmu cuma pas-pasan, kamu bakal panik dan akhirnya pakai kartu kredit dengan bunga yang bikin nangis.
Menurut gue, buat traveler rutin, dana darurat idealnya:
- Minimal 4 kali pengeluaran bulanan kalau kamu single dan belum ada tanggungan
- 6 kali pengeluaran bulanan kalau kamu sudah berkeluarga atau punya cicilan
- Tambahan 1-2 juta "buffer traveling" di dalamnya—ini khusus buat biaya darurat saat di perjalanan, misalnya tiket pulang mendadak atau biaya medis di luar kota
Simpan di tempat yang gampang dicairkan tapi gak gampang kamu "godain". Rekening terpisah tanpa kartu debit di dompet digital, misalnya. Jangan ditaruh di reksa dana pasar uang kalau kamu tipe yang gampang tergoda jual buat tambahan budget liburan.
Dana darurat bukan buat beli tiket promo. Begitu kamu pakai buat hal yang bisa ditunda, namanya bukan darurat lagi.
Tabungan Liburan: Nabung buat Hal yang Kamu Rencanain
Ini pos yang lebih fleksibel. Kamu boleh punya target, boleh punya deadline, boleh punya "rekening khusus traveling" yang gak akan kamu sentuh buat hal lain.
Gue sendiri punya kebiasaan aneh: tiap bulan, gue sisihkan sekitar 10-15 persen dari pemasukan buat "kas jalan-jalan". Kadang gue gak tahu mau ke mana, tapi uangnya tetap jalan. Hasilnya, waktu ada tiket promo atau tiba-tiba diajak teman ke Labuan Bajo, gue gak perlu ngutang atau geser dana darurat.
Beberapa cara yang bisa kamu tiru:
- Tentukan target per trip, bukan target tahunan yang abstrak. "Nabung 8 juta buat 5 hari di Yogyakarta bulan Oktober" lebih konkret daripada "nabung buat traveling tahun ini"
- Pecah jadi nominal harian. Kalau targetmu 8 juta dalam 6 bulan, itu sekitar 45 ribu per hari. Terasa lebih ringan, kan?
- Otomatiskan. Aktifkan auto-debit ke rekening tabungan traveling begitu gajian. Kamu gak akan ngerasa kehilangan karena uangnya "gak pernah kelihatan"
Kalau Budget Terbatas, Mana Duluan?
Kalau pemasukanmu cuma cukup buat satu pos, jawabannya jelas: dana darurat dulu, tapi versi mini. Kumpulkan dulu 1-2 juta sebagai "dana darurat pemula", baru cicil tabungan liburan. Setelah tabungan liburanmu terkumpul, balik lagi ke dana darurat sampai penuh.
Ini bukan aturan mati. Kalau kamu sudah ada trip yang gak bisa dibatalkan (misalnya sudah bayar DP), ya alokasikan buat itu dulu, tapi pastikan dana darurat pemulamu sudah ada. Jangan sampai kamu berangkat tanpa jaring pengaman sama sekali.
Porsi yang Masuk Akal buat Traveler Rutin
Gue gak akan kasih angka sakti, karena tiap orang beda. Tapi kalau kamu sering traveling dan ingin dua-duanya jalan, coba formula ini setelah kebutuhan pokok dan cicilan terpenuhi:
- 50% ke dana darurat sampai target tercapai
- 30% ke tabungan liburan
- 20% ke pos lain (investasi, dana kesehatan, atau keinginan lain)
Setelah dana darurat penuh, porsi bisa dibalik: 40% liburan, 40% investasi, 20% fleksibel. Yang penting kamu konsisten, bukan sempurna.
Oh iya, satu hal yang sering dilupakan: catat pengeluaran saat traveling. Banyak orang rajin nabung buat liburan, tapi begitu di jalan, budget meledak karena gak sadar jajan terus. Pakai aplikasi catatan atau bahkan notes di HP. Gue dulu sering kaget lihat total pengeluaran setelah pulang—padahal rasanya "cuma jajan kecil-kecil".
Intinya, dana darurat dan tabungan liburan bukan musuh. Mereka dua sahabat yang tugasnya beda. Kamu cuma perlu tahu siapa yang dipanggil duluan, dan berapa jatah masing-masing. Setelah itu, jalan-jalan tetap bisa, tidur pun tetap nyenyak.